Museum Kerajaan Samudera Pasai Tak kunjung Difungsikan , Kondisinya Sangat memprihatinkan

Museum Kerajaan Samudera Pasai Tak kunjung Difungsikan , Kondisinya Sangat memprihatinkan

800
BERBAGI

ACEH UTARA – Museum kerajaan Islam Samudera Pasai yang terletak di Desa Beringin, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara hingga kini belum dapat difungsikan. Namun beberapa pegunjung mulai terlihat mengunjungi lokasi penyimpan situs sejarah kerajaan Pasai tersebut.

Museum yang berdiri kokoh ini dibangun pada tahun 2011 dari anggaran Otonomi Khusus senilai Rp 7,5 Milyar lebih diatas lahan seluas lima ratus meter. Pintu masuk untuk ke gedung itupun kini tampak digembok bahkan beberapa besi pagar pada halaman gedung mulai rusak, miniatur kapal yang berada dihalaman museum pun sudah , rusak , miniatur kuburan dan juga plapon depan museum .

Muktaruddin selaku Ketua IPSM ( Ikatan pekerja sosial masyarakat ) Aceh Utara menyampaikan bahwa dirinya sangat prihatin dengan kondisi museum yang seperti ini , yang tak terurus dan tidak difungsikan , padahal ini merupakan sejarah yang perlu kit lestarikan sebagai warisan kepada anak cucu kita.” museum ini dan bangunan – bangunan peninggalan kerajaan malikulsaleh seharusnya , menjadi cagar budaya dan menjadi tempat wisata yang regilius” ucap Muktar.

Muktar mengharapkan kepada pemerintah daerah dan pusat agar secepatnya dapat mengfungsikan Museum tersebut , agar para pengunjung yang datang tidak kecewa , dan saya melihat banyak pengunjung yang datang dari sumatera barat , utara dan banda Aceh , dan sampai kesana mereka merasa kecewa dengan kondisi demikian , dan juga saait mereka kesitu , tidak mendapat informasi yang akurat , karena mereka hanya mendengar ceramah para penjaga makam dan museum saja.

Menanggapi hal tersebuta Kabid Kebudayaan , Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Utara, Ir. Nurliana NA, yang ditanyai media baraknews.com mengatakan salah satu faktornya adalah akses jalan menuju Museum belum dibangun. Pihaknya berjanji suata hari nanti akan segera membuka museum tersebut agar pengunjung dapat melihat-lihat benda-benda peninggalan kerajaan Islam Samudera Pasai, namun setelah akses menuju Museum dibangun.

“Suatu hari nanti saya akan buka memfungsikan museum itu. Untuk saat ini belum dapat difungsikan karena belum ada jalan layak untuk masuk ke bangunan museum itu, karena selama ini kita hanya menggunakan jalan desa ” ujar Nurliana , Senin (28/05).

Usulan untuk membangun jalan tersebut kata Nurliana membutuhkan anggaran senilai Rp 8,6 milyar dan sudah diajukan kepada Gubernur Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. “Sewaktu Kunjungan Kerja pak Gubernur ke lokasi itu kita sudah usulkan pada 15 Februari lalu,” ujarnya lagi.

Sementara ditanya soal kerusakan beberapa insfrastruktur pada museum, Nurliana menyebutkan terjadi kerusakan akibat angin kencang yang mengenai bagian gipsum yang ada pada platfom depan. Sedangkan kerusakan pada pagar diakibatkan adanya pengunjung yang menerobos pagar masuk untuk Prewedding.
Terdapat beberapa benda peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai yang dipajang di dalam museum tersebut diantaranya Manuskrip sejumlah 40-an, tiga buah replika batu nisan, Pilar Pasai, alat gerabah mulai abad 15-19 (China-Eropa), Dirham, dan kuningan peralatan adat Aceh serta masih banyak lagi. (Sahrul)