Rehabilitasi Ex Gam Telah selesai , Jakarta Tak Perlu Risau

Rehabilitasi Ex Gam Telah selesai , Jakarta Tak Perlu Risau

60
BERBAGI

LHOKSEUMAWE – Menanggapi pertanyaan Sekjen (Sekretaris Jendral) Dewan Ketahanan Nasional (WANTANNAS) Letjen Doni Monardo pada Jumat (20/07/2018) dalam acara pembubaran panitia Sarasehan Nasional di Ruang Nakula Gedung Setjen Wantannas, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

Doni mengatakan pihaknya akan mengirimkan Tim untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di Aceh dan salah satu permasalahan yang bakal segera diselesaikan adalah persoalan rehabilitasi mantan kombatan anggota GAM. Menurutnya, persoalan rehabilitasi itu belum selesai hingga kini.

“Kita coba petakan, kita bahas di Jakarta, apa yang bisa kita lakukan untuk proses rehab mantan GAM, karena sampai sekarang nggak selesai,” ucap Doni seperti yang dikutip dari salah satu media online.

Cut Meutia, politisi perempuan Partai Aceh menanggapi dengan mengucapkan terimakasih atas niat baik Sekjen Dewan Ketahanan Nasional (WANTANNAS) Letjen Doni Monardo yang akan mengirimkan Tim untuk merehabilitasi mantan kombatan GAM (Gerakan Aceh Merdeka).

“Kita menghargai nait baik suadara kita dari Jakarta, namun alangkah lebih bijak jika niat baik tersebut tidak dilakukan.” Kata Cut Meutia kepada awak media, Sabtu (21/0718).

Menurut Cut Meutia yang kerap disapa Farah, kondisi mantan kombatan GAM baik-baik saja, sehingga Wantannas tak perlu repot-repot untuk merehabilitasi mereka, apalagi ini menjelang tahun politik, dikhawatirkan nantinya akan menimbulkan spekulasi dan membuat kegaduhan kondisi di Aceh.

Lebih lanjut Farah mengatakan, sebenarnya proses Rehabilitasi mantan kombatan GAM sudah selesai dilakukan, jadi tidak tepat kalau Wantannas mengatakan belum selesai.

Jikapun dianggap belum selesai, ungkap Farah, maka hal tersebut menjadi tanggung jawab Pemerintah Aceh dan biarkan Pemerintah Aceh yang mengurusnya, bukan harus mengirim tim khusus dari Jakarta.

“Dengan ditanda-tanganinya kesepakatan damai di Helsinky 15 Agustus 2005 silam, Jakarta dan Aceh sudah sepakat dan sepaham bahwa konflik Aceh telah selesai, GAM sudah beralih fungsi dari Gerakan Kemerdekaan kedalam Komite Peralihan Aceh (KPA), mereka sudah berbaur dengan masyarakat, tidak ada lagi GAM di Aceh, yang ada mantan GAM yang sudah sempurna terintegrasi dalam masyarakat, mereka bukan lagi ancaman bagi ketahanan negara, mereka sudah ikhlas kembali dalam pangkuan ibu pertiwi.” Jelas Farah.

Ia melanjutkan, jadi janganlah mengusik keikhlasan mereka dengan hal-hal yang tidak perlu dan tidak patut, apalagi dengan program yang bisa berdampak pada rusaknya perdamaian Aceh yang sudah berjalan dengan sangat indah.

“Biarkan pemerintah Aceh sendiri yang menuntaskan persoalan rakyatnya, tidak perlulah Jakarta repot-repot mengurus rakyat Aceh dan mantan GAM di Aceh”. Pinta Farah. (Sahrul)