oleh

Kebuntuan cita cita politik daerah dan sikap golput pemuda

Berita Kab.Bima –Jum’at 23/10/20. Pemuda adalah salah satu pilar utama berjalannya demokrasi dan cita cita politik bangsa, mengingat sepanjang sejarah bangsa pemuda selalu hadir dengan cita cita untuk kesejahteraan bersama dan masih sangat progres dalam menyikapi cita cita mereka.

Para pemuda yang bergabung dalam Forum Pemuda Dorotangga (FPDRT) memilih golput sebagai sikap politik dalam kontestasi pilkada Kab. Dompu periode 2020 ini.

Fathonadin mengatakan, sikap ini tidak lahir begitu saja, sikap ini lahir dari bagaimana pemuda Dorotangga memperhatikan fenomena dan visi para paslon yang bertarung dalam periode kali ini.

Ada 3 indikator yang membuat momen pilkada kali ini jatuh dalam kebuntuan visa dan cita cita.

Indikator pertama : masih bercokol kuatnya struktur politik lama yg didominasi oleh orang tua Sebagai aktor politik, menurut Forum Pemuda Dorotangga Monopoli ruang politik oleh para elit desa atau kelurahan yang seolah olah hanya melihat pemuda sebagai komuditas politik semata yang seenaknya mereka arahkan, untuk kepentingan dan nama besar mereka, tanpa melihat bahwa pemuda masih memiliki cita cita dan visi politik yang progres.

Indikator kedua: refleksi forum pemuda dorotangga atas mental korup para elit desa atau kelurahan di Kabupaten Dompu yang masih sering mengakumulasi anggaran ataupun program nasional yang sampai ke desa atau kelurahan.

Indikator ke tiga: refleksi forum pemuda dorotangga atas visi dan cita cita politik semua paslon dalam pilkada Dompu kali ini yang masih menunggangi program nasional sebagai janji politik, yang semua orang tau bahwa program itu melahirkan tata kelola ruang yang tidak menjamin keberlangsungan ekologi, sehingga kekeringan dan bencana ekologi adalah harga yg mahal yang harus dibayar oleh rakyat dompu serta generasi kedepan, tanpa adanya kreativitas untuk memperkuat ekonomi lokal guna meretas kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan dengan menjamin keberlangsungan ekologi, para paslon hadir dengan visi yang sama.

Atas tiga penilaian dari pengamatan yang sederhana di atas pemuda dorotangga yang bergabung dalam Forum Pemuda Dorotangga (FPDRT) memilih sikap golput sebagai sikap politik mereka, karna menurut mereka cita cita mereka terlalu besar dan tinggi sehingga kotak suara dalam pilkada kali ini tidak cukup untuk menampung itu.

“Biarkan saja para orang tua itu bertarung dengan cita cita dan visi yang pendek untuk diri mereka, kami sebagai pemuda hanya ingin menjadi penonton dari arah bangsa yang dimainkan oleh para orang tua itu”, tutup Fathonadin. (Kang rum)

News Feed