Target PAD Terminal Sumber Rp.37 Juta Per Tahun Tak Terapai

BARAK NEWS.CIREBON – Meski saat ini Pasar Darurat Sumber berdampingan dengan terminal angkutan umum merupakan tempat yang ramai dengan aktivitas naik turunnya penumpang. Namun suasana berbeda justru terlihat di Terminal Sumber.

Terminal yang berada di jantung Ibu Kota Kabupaten Cirebon itu, sepi dari aktivitas naik turunnya penumpang. Bahkan aktivitas angkutan umum yang seharusnya masuk ke terminal itu pun nyaris tidak ada sama sekali.

Padahal terminal tersebut yang dibangun pada tahun 1989 itu, sempat mengalami masa kejayaan di tahun 1990-an. Pada masa itu, semua angkutan umum yang melintasi Sumber masuk untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Setelah tahun itu hingga saat ini, Terminal Sumber terlihat sepi.

Ironisnya terminal itu kini digunakan sebagai tempat parkir sejumlah mobil pegawai Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon.Bahkan aktivitas penarikan retribusi yang seharusnya dilakukan di terminal pun, tidak terjadi lantaran angkot enggan masuk ke dalam terminal.

 

TERMINAL SUMBER

Akibatnya, para petugas dishub terpaksa berjaga di depan terminal setiap harinya untuk menarik retribusi pada setiap angkot atau angdes yang melintas di depan terminal.

Salah seorang sopir angkutan Sumber-Gunung Sari, , Jayana (40) mengaku enggan masuk ke terminal lantaran tidak ada penumpang di terminal.”Kalau kita sopir kan sebenarnya nyari penumpang. Kita ngikutin penumpang. Kalau penumpangnya tidak ada di terminal, buat apa angkot masuk terminal,” katanya kemarin.

Menurutnya, terminal sekarang ada keramaian pasar darurat, pusat perbelanjaan pasar tradisional. Para sopir angkot melakukan aktivitas naik turun penumpang di terminal tidak lazimnya sebuah terminal.Walaupun tidak masuk terminal selalu bayar retribusi kepada petugas yang berjaga di depan terminal. “Ya setiap kali berangkat saya bayar Rp 1.000,00 ke dishub. Entah hasil kutipan uang itu buat apa ?,” tanyanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Cirebon, DR. Iis Krisnandar, SH, CN melalui Kepala Terminal Sumber, Hasanudin mengakui bila angkutan kota ataupun desa sulit untuk masuk ke terminal.Tidak adanya penumpang menjadi salah satu faktor tidak masuknya angkutan ke terminal. Hal ini, kata dia, akhirnya berdampak secara signifikan pada penarikan retribusi.

 

“Ya kalau dipaksa masuk terminal, justru mereka (angkot dan angdes, red) malah menghindar dan menolak. Makanya untuk retribusi kita ambil ke depan. Kita tempatkan petugas untuk menarik di jalan biar retribusi tetap dapat,” ujarnya.

Dijelaskan, sekarang pasar darurat bersebelahan dengan terminal. Tetapi tidak berpengaruh terhadap aktivitas terminal untuk menaik & menurunkan penumpang.

Padahal angkutan umum jumlahnya mencapai 60 an dan pihaknya di target pendapatan aseli daerah (PAD) Rp.37 juta per tahun. “Rata-rata angutan yang bayar retribusi berkisar 40 – 50 angkutan dari jumlah angkutan,” ungkapnya.

Sehingga PAD tahun kemarin tidak tercapai & beban PAD tahun 2016 ini masih sama yaitu Rp.37 juta per tahun, pungkasnya.(Mulbae) No ratings yet.

Nilai Kualitas Konten

Komentar