oleh

3000 hektar lahan terlantar di Muratara, lima tahun terakhir ini sudah menjadi lahan produktif

Berita Kab.MURATARA– Sejak lima tahun terakhir, sudah 3 ribu hektar lahan terlantar yang sudah diaktifkan kembali menjadi lahan produktif, melalui optimalisasi lahan terlantar oleh Pemerintah kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) provinsi Sumatera Selatan

Optimalisasitersebut dilakukan Pemkab Muratara, untuk memanfaatkan lahan terlantar menjadi lahan produktif. Sejak 2016 hingga 2020 ini, upaya tersebut sudah menunjukkan hasil yang cukup memuaskan.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan, Kabupaten Muratara Ir Suhardiman, melalui Kabid Sapras, Ade Heri mengungkapkan, saat ini ada 7 ribu hektar lahan berpotensi yang belum digarap secara maksimal.

Lahantersebut sengaja ditinggalkan masyarakat. Dengan alasan, mereka menganggap tidak berpotensi menghasilkan sumber ekonomi. Pasalnya, mayoritas lahan pertanian di Muratara merupakan lahan sawah lebak, dan sering kebajiran saat musim hujan. Sebaliknya saat kemarau mengalami kekeringan.

“Mayoritas kita sawah tadah hujan, jadi cuma bisa panen satu kali dalam satu tahun. Karena sering terkena bencana banjir dan kekeringan, banyak lahan sawah di wilayah kita ditinggalkan masyarakat,” jelasnya, Selasa (24/11/2020).

Diamengungkapkan, pemerintah daerah sudah berupaya untuk meningkatkan potensi lahan tidur tersebut. Dengan melakukan optimalisasi seperti, menggunakan sistem pompanisasi, membuat saluran irigasi, hingga pembagian bibit dan lainnya.

“Saat ini sampai dengan 2020 sudah ada 700 hektare lahan yang kita kembalikan fungsinya. Dari program awal sampai saat ini sudah ada sekitar 2300 hektare. Artinya di 2020 ada 3000 hektare, lahan produktif di Muratara,” ucapnya.

Ademengungkapkan, untuk mengatasi masalah ekonomi yang sering dikeluhkan petani. Mereka terus mendorong peningkatan produksi pertanian di Muratara. Sehingga bisa panen dua kali dalam setahun.

“Saat ini sudah ada yang panen sampai tiga kali dalam setahun di Muratara. Meski rata rata banyak yang dua kali panen. Estimasi kuta 5 ton/hektar di 2020 ada sekitar 30.000 ton produksi padi di wilayah Muratara,” bebernya.

Meskimasih ada sekitar 4000 hektar lagi lahan potensi yang belum digarap di Muratara, pihaknya menegaskan selalu melakukan pembukaan lahan secara bertahap.

“Kita lakukan pembukaan lahan secara bertahap, untuk mengatasi masalah lahan di Muratara kita terapkan sistem pompanisasi, dan membuka saluran saluran irigasi,” tegasnya

Wasirpetani di Kecamatan Rupit mengaku, ada beberapa kendala yang sering dihadapi masyarakat saat hendak menggarap lahan. Seperti lahan yang sering kebanjiran hingga alami kekeringan saat musim penghujan.

“Di wilayah kita Muratara, rata – rata sawah tadah hujan. Tidak seperti di Tugumulyo Musi Rawas, ada irigasi besar. Dulu banyak yang bersawah, Tapi karena sering kekeringan akhirnya ditinggalkan” tuturnya.

Halini juga dialami di wilayah desa Bingin Rupit, Kecamatan Rupit Muratara, kepa desa setempat Hengki Basip membenarkan jika di wilayah mereka banyak sawah yang ditinggalkan masyarakat. Namun mereka terus berupaya untuk melakukan optinalisasi dan mengajak masyarakat kembali keladang.

Pihaknyamengaku sempat terkendala untuk mengajak masyarkat kembali berladang. Namun kondisi itu berhasil setelah disiasati dengan sistem bagi hasil yang dilakukan Badan Usaha Milik desa dengan pemilik lahan.

“Dulu sawah di sini Selama puluhan tahun, ratusan hektar lahan potensi pertanian di desa kami hanya di tumbuhi ilalang tapi sekarang sudah kami garap bersama dan sudah banyak lahan yang difungsikan kembali dengan sistem bagi hasil,” timpalnya.

Jurnalis: David

News Feed