oleh

KPK Bidik Tersangka Baru Kasus Suap Pengadaan Pupuk

Barak News.Com.Jakarta – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan Siti Marwa, Direktur Administrasi dan Keuangan PT Berdikari (Persero) sebagai tersangka kasus korupsi pengadaan pupuk periode 2010-2012. Lembaga antirasuah itu tengah membidik tersangka baru dalam kasus ini.

Untuk mendalami keterlibatan pihak lain, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memanggil Nofrisel, Direktur Operasi dan  Pengembangan PT Bhanda Ghara Reksa (Persero). Saat pengadaan pupuk periode itu, Nofrisel menjabat sebagai Senior Vice President PT Berdikari.”Dia (Nofrisel) dimintai keterangan sebagai saksi untuk tersangka SM (Siti Marwa),” ungkap Kabag Pemberitaan Priharsa Nugraha.

Korupsi_di Indonesia

Nofrisel di cecar seputar proses perencanaan, teknis   pelaksanaannya, pihak-pihak yang terlibat dalam tender, serta mekanisme pengerjaan dan pengawasan pelaksanaan pengadaan pupuk yang dilakuka PT Berdikari saat itu.Penyidik,masih menganalisis keterangannya. “Ada banyak hal yang didalami penyidik. Semua berkaitan dengan jabatan dan tanggung jawab saksi saat itu,” katanya.

Dari keterangan sejumlah saksi yang telah dipanggil, penyidik akan mengumpulkan alat bukti untuk menetapkan tersangka baru. “Bila alat buktinya men¬cukupi, siapapun bisa menjadi tersangka,” ujar Priharsa.

Selain Nofrisel, penyidik KPKjuga memanggil Asisten Manager Keuangan PT Berdikari Dian Andriani Nurul Inayah, pegawai PT Berdikari Teguh Pratama Januzir, dan Direktur Utama PT Bintang Saptari, Rinawati.

Keterangan para pejabat PT Berdikari akan dikonfrontir den¬gan perusahaan yang ditunjuk untuk melaksanakan pengadaan pupuk. “Pemeriksaan saksi dari rekanan dijadwalkan pekan ini,” kata Priharsa. Namun, dia belum bersedia siapa dari pihak rekanan yang akan dipanggil. Lazimnya penyidikan kasus suap, KPK akan menetapkan tersangka dari dua pihak, yakni pemberi suap dan penerima suap. Sejauh ini, KPKtelah menetapkan Siti Marwa sebagai pihak penerima suap.

“Berdasarkan pengembangan penyelidikan, telah ditemukan bukti permulaan yang cukup un-tuk meningkatkan status perkara tindak pidana korupsi menerima hadiah terkait pengadaan atau pembelian pupuk PT Berdikari (Persero),” sebutnya.

Siti Marwa disangkakan me¬langgar pasal 12b atau pasal 5 ayat 2 atau 5 ayat 1 huruf b atau pasal 11 UU No.31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Ketentuan itu mengatur pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah. Padahal, diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya.

Ancaman hukuman bagi penerima suap, yakni pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar.

“SM diduga menerima uang dalam kurun waktu 2010-2012. Jumlah uang karena masih dalam proses penyidikan, maka belum dapat menyebutkan secara detail. Tapi yang bersangkutan mendapat uang lebih dari Rp 1 miliar dari sejumlah perusahaan,” ungkap Priharsa.

Berdasarkan laman resmi PT Berdikari (Persero), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu tak mengurusi pengadaan pupuk.”Modus yang dilakukan adalah PT Berdikari memesan pupuk urea tablet terhadap vendor. Kemudian agar vendor mendapatkan proyek maka vendor memberikan sejumlah uang kepada Ibu SM ini,” ungkap Priharsa.

Priharsa menegaskan, Siti Marwa bukanlah tersangka tunggal dalam perkara ini karena ada sangkaan pasal 55 ayat 1 KUHP (pelaku bersama-sama). “Sampai saat tersangkanya masih satu yaitu Ibu SM. Tapi tersangka lain masih akan ditelusuri termasuk  pemberinya,” jelas Priharsa.

Suap mencapai miliaran rupiah itu, sebut Priharsa, juga merupakan jumlah kumulatif beberapa penerimaan yang diduga diterima Siti Marwa.Untuk mencari bukti kasus ini, KPK menggeledah sejumlah tempat. Yakni, kantor pusat PT Berdikari di Jalan Merdeka Barat dan kantor di Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Penyidik KPKjuga menggeledah rumah Siti Marwa di kawasan Menteng Dalam Jakarta Selatan. “Penyidik telah menyita sejumlah dokumen,” ungkap Priharsa.(Johan)

Komentar

News Feed