oleh

Krisis Air, Himdos Demo Desak Pemeritah Buka Mata

Kabupaten Bima – Penderitaan masyarakat Kecamatan Donggo dan Soromandi yang dipicu oleh krisis air bersih, baik untuk minun maupun cucian dan lainnya-sesungguhnya bukan hal baru. Tetapi, fenomena miris ini terjadi sejak puluhan tahun silam. Hingga detik ini, masalah yang terus menemui keluhan itu, belum juga diatasi. Pemerintah, sesungguhnya sudah mengetahuinya, tetapi hingga sekarang belum juga tergerak hatinya.

Berbagai upaya telah diajukan kepada pemerintah, untuk mengatasi masalah itu. Karena belum terjawab, emosipun tak bisa dibantah. Kalangan akademisi asal dua Kecamatan yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Donggo dan Soromandi (Himdos), akhirnya mengambil sikap. Konsultasi hingga konsolidasi yang menggedor nurani pemerintah melalui aksi demonstrasi, pun ditempuh.

setelah menggelar pertemuan penting guna menjawab penderitaan warga di dua Kecamatan tersebut, akhir Himdos menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Bupati Bima di BLK-Kota Bima, Senin (24/10/2016). Aksi demonstrasi Himdos, lebih kepada mendesak pemerintah agar membuka mata terhadap penderitaan warga di dua Kecamatan tersebut akibat krisis air yang berkepanjangan.

“Kini bukan waktunya pemerintah untuk lagi berpura-pura. Masalah air ini bukanlah hal tabu bagi warga Donggo dan Soromandi. Tetapi, masalah ini sudah terjadi sejak puluhan tahun silam. Hingga sekarang, belum juga diatasi oleh pemerintah sebagai pihak palig bertanggungjawab. Untuk itu, kami mendesak pemerintah agar segera mendengar dan membuka mata terhadap persoalan serius yang dihadapi oleh warga di dua Kecamatan tersebut,” desak Korlap aksi, Adhar.

Aksi Himdos di Pemda Kabupaten Bima NTB
Aksi Himdos di Pemda Kabupaten Bima NTB

Musdim kemarau yang berkepanjang, kian membuat warga Donggo dan Soromandi menderita. Lagi-lagi, pemicunya soal air baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk mengairi pertaniannya. Mirisnya, untuk mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, warga di dua Kecamatan tersebut harus rela berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh. “Penderitaan warga Donggo dan Soromandi, kita semua tahu. Mereka harus menunggu berjam-jam dan menempuh jarak yang jauh baru mendapatkan air,” tandasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan air, warga didua Kecamatan tersebut, hanya mengandalkan sumber mata air apa adanya. Sementara mata air Ntuda Ncora yang mendapatkan kucuran anggaran miliaran rupiah, hingga kini belum bisa dimanfaatkan sepenuhnya. “Mata air itu, di per-untukan kepada lima Desa. Yakni, O’o, Kala, Mpili, Dori Dungga Kecamatan  Donggo dan untuk masyarakat di Dusun Ndano Ndere, Kecamatan Soromandi,” jelasnya.

Hal yang sama, juga dikemukakan oleh Ketua PK KNPI Kecamatan Donggo Baharudin alias La Ndolo Conary, dalam aksi demosntrasi itu. Kesulitan air di Kecamatan Donggo dan Soromandi, diakui nya sudah teramat parah. “Dulu pemerintah pusat pernah menggelontorkan anggaran sebesar Rp7,5 M. Namun, proyek tersebut gagal,” ungkapnya.

Anggaran miliaran rupiah itu, belum bisa mengatasi kesulitan warga terhadap air bersih. Sebab, debit air dari sumbernya tidak bisa diairi dengan baik. “Karenanya, hal itu juga mencerminkan kegagalan pemerintah.  Sebab, pemerintah tidak mampu mengawasi pengerjaan proyek dengan baik,” timpalnya.

Landolo Conary juga menegaskan, proyek SPAM di Kecamatan Donggo itu belum pernah dinikmati oleh masyarakat. Padahal, anggara proyek tersebut cukup besar dan bersumber APBN tahun 2009. “Saat itu, Pelaksana proyek adalah PT Jasuka Bangun Pratama. Tetapi, lagi-lagi, pemerintah gagal,” tandasnya.

Kegiatan kedua katanya, dikerjakan oleh CV Ferdefi. Anggarannya sebesar Rp1 M yang bersumber dari APBN tahun 2013. ‘’Lagi-lagi proyek ini gagal. Kesimpulan dari kami, atas kegagalan tersebut,  pemerintah tidak pernah serius. Proyek hanya dijadikan alat untuk meraup keuntungan yang lebih besar,” duganya.

Setelah massa berteriak dalam durasi puluhan menit lamanya, akhirnya Sekda Kabupaten Bima Drs H Taufik HAK, langsung menemui massa. Menariknya. Taufik langsung naik ke atas mobil pick up yang digunakan oleh Himdos untuk menjelaskan tetang rencananya atas desakan massa tersebut. Pada moment tersebut berjanji, akan menjawabnya tahun 2017. “Tuntutan masyarakat Donggo dan Soromandi dalam hal itu, akan kami anggarkan tahun 2017,” janjinya.

Sistem pegelolaan air di Donggo dan di Soromandi tahun 2017, akan dilakukan dengan sistem seperti yang berlaku di Desa Sari, Kecamatan Sape. Maksudnya, pengelolaan air tidak lagi menggunakan PDAM. Karena, biayanya sangat mehal. Tetapi, akan dikelola langsung dengan menggunakan pihak penting yang ditunjuk oleh masyarakat melalui hasil musyawarahnya.

“Untuk sistem pengelolaan tersebut, nanti kita ajak warga Donggo dan Soromandi untuk study banding ke Desa Sari,” jelasnya. “Jika terjadi masalah seperti pipa bocor, tentu saja akan diperbaiki oleh masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Masalah air di Kabupaten Bima, diakuinya sudah cukup kompleks. Itu terjadi, karena disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti ulah tangan manusia yang melakukan perambatan hutan. “Untuk hal itu, kita butuh kesadaran bersama. Tapi untuk Donggo dan Soromandi akan kita sikapi dengan baik,” pungkasnya. (Abd.Rahim)

 

 

 

Komentar

News Feed