oleh

Nestapa Sang Penyarang Sampah

Kota Surabaya – Sutikno Rria asal Malang yang mengabdi untuk kebersihan Kota Surabaya, penyarang sampah, dirumah pompa kebon agung hasil dari masyarakat Surabaya yang membuang sampah semabarangan.Tak kau hiraukan bau menyengat sampah sungai yang kau sarang, nyamuk dan kebisingan mesin pompa menjadi teman dalam bekerjamu.

Jika musim penghujan, kau tidak bisa jauh dari rumah pompa, jika cuaca mendung, kau dengan sigap berganti pakaian lusuh untuk bersiap menyarang sampah, apalagi jika Sang Ibu sudah memberikan komandonya melalui Handy Talkie yang menjadi teman setianya, Jika hujan turun di sepertiga malam, maka kau langsung beranjak ke tempat kerja, tidak peduli apakah kau sehat atau tidak yang penting kerja.

Jika musim kemarau tiba, kau susuri sungai- sungai untuk membersihkan tanaman tanaman liar yang berada dibibir sungai tiada henti dan lelah kau bekerja, apakah pengabdianmu sedemikian rupa mendapatkan pendapatan yang setimpal ? Gaji bulanan 3.100.000 tentu tidak setimpal dengan apa yang kau kerjakan, kau bekerja melebihi 40 jam dalam seminggu tanpa upah lembur dan upah lainnya.Bahkan ketika pekerja sektor lain yang mungkin saja bekerja kurang dari 40 jam dalam seminggu mendapatkan Tunjangan Hari Raya, Kau hanya bisa mengenyitkan dahi sambil berkata, yang penting dapat libur saja saya sudah bahagia berkumpul dengan keluarga di hari raya.

Lalu apa jenis hubungan industrialmu dengan pemerintah kota Surabaya? Ah saya tidak terlalu pusing dengan hal itu Pak, yang penting tiap awal bulan saya ambil gaji diposko dan saya masih bisa bekerja untuk menafkahi orang rumah.

Apa ada Perusahaan yang menyalurkan Anda sebagai tenaga alih daya? Tidak ada Pak, katanya saya bekerja dibawah koordinasi Dinas Kebersihan dan Pertamanan. Seiring waktu kau telah beranjak senja, tentu tenagamu mulai rapuh, tidak sekuat dulu kala, paru- parumu mulai tidak kuat menghirup bau menyengat sampah yang dibuang masyarakat bodoh yang tinggal di surabaya,tulangmu sudah tidak kuat digigit nyamuk yang tidak jauh dari air dan sampah.

surabaya

Namun kau masih tiada kunjung lelah bekerja demi menafkahi keluarga. Disaat pekerja sektor lain di tempat yang sama bermimpi menikmati dana pensiun entah untuk memulai usaha atau memulai jalinan rumah tangga kedua, kau hanya bisa mengumpulkan secuil tabungan karena tidak bisa menikmati Jaminan Hari Tua sebab tidak didaftarkan dalam program BPJS Ketenagakerjaan.

Kini kau terbaring lemah di Rumah Sakit Pemerintah yang tidak dimikiki oleh Pemerintah Kota, karena stroke yang kamu derita, kau mendaftar sebagai pasien dengan modal surat keterangan miskin, bukan dengan kartu BPJS yang kau punya. Tetap sabar Pak Tik, semoga lekas sembuh, semoga kelak prinsip tidak memanusiakan manusia ini akan segera berakhir.

Mungkin saja semua pemangku kota ini sedang sibuk menbuat orkestra antara Surabaya Jakarta, hingga penderitaanmu terabaikan. Mungkin saja kamu hanya jadi partikel kecil ya ng dibutuhkan sebagai jargon politik ketika masa kampanye tiba ditengah lingkaran badut badut politik yang kadang berwajah menyenangkan dan kadang menyeramkan tergantung peran apa yang sedang dimainkan dan sejumlah uang yang dibayarkan. Semoga nasibmu menjadi contoh betapa praktek ketidakberabadan ini masih ada di Negara yang katanya sudah 71 Tahun Merdeka.

*Arif Fathoni warga Medokan Sawah Timur ditulis berdasarkan kisah nyata. (Ais)

Komentar

News Feed