oleh

Pagelaran Seni Dan Penghargaan Sapta Wikrama Lesbumi NU Surabaya

SURABAYA – Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Surabaya dan memberikan apresiasi terhadap seni dan kebudayaan asli daerah, Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU Kota Surabaya memberikan “ Penghargaan Sapta Wikrama” untuk para seniman dan pagelaran Seni, di Gedung Balai Pemuda Surabaya, Senin (30/5/2016)

Acara tersebut dihadiri oleh Ketua Lesbumi Pusat KH Agus Sunyoto, Rois Syuriah NU Surabaya KH Mas Sulaiman, Ketua NU Surabaya Dr H Achmad Muhibbin Zuhri, para seniman Surabaya,jajaran pengurus harian syuriah, tanfidziyah, Lembaga, Badan Otonom warga NU Kota Surabaya.Pagelaran seni dan penghargaan Sapta Wikrama oleh Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia NU Kota Surabaya diramaikan dengan penampilan parade group band seniman music Surabaya, dihalaman Gedung Balai Pemuda sejak siang hingga petang.

Selanjutnya pada malam harinya, diawali seni pencak jidor oleh anggota Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa dan penampilan seni tradisional kentrung sholawat pimpinan Cak Toro. Usai seni Kentrung dilanjutkan dengan fragmen yang mengisahkan perjuangan KH Ridlwan Abdullah salah satu ulama pendiri NU yang membuat lambang NU pertama dengan melalui seni lukis.Untuk penghargaan Sapta Wikrama”, Lesbumi NU Surabaya memberikan kepada para seniman Surabaya diantaranya diberikan kepada Almarhum KH Ridlwan Abdullah seniman lukis yang melukis lambang NU pertama kali, Cak H Kartolo seniman Ludruk asli Surabaya dan Ida Lailia penyanyi dangdut legendaries

IMG-20160530-WA0204.

Dalam sambutannya Ketua NU Surabaya Dr Muhibbin Zuhri mengatakan acara ini merupakan sebentuk apresiasi NU terhadap pegiat kesenian atau kebudayaan yang telah memberikan warna tersendiri dalam corak sejarah kontemporer Islam di Indonesia, khususnya di Surabaya. Penghargaan Saptawikrama sesungguhnya merupakan penanda perhatian kaum nahdliyin terhadap perkembangan kesenian dan kebudayaan, karena entitas ini terbukti efektif sebagai medium perwujudan visi NU,”ujarnya.

Dikatakannya, keberagamaan kalangan NU dicirikan oleh sikapnya yang eklektik terhadap kebudayaan. KeIslaman NU tidak melulu berjibaku pada teks agama yang normative, tetapi memberikan ruang yang sangat luas bagi konteks sosial-budaya sebagai bagian yang inhern dari agama. Inilah Islam Nusantara, Islam NU yang secara kultural sdh established sejak lama, bahkan sebelum jam’iyah NU didirikan. Berdirinya NU tahun 1926 sesungguhnya hanya merupakan formalisasi dan penegasan identitas dari tradisi kultural keberagamaan kaum muslimin nusantara.
Oleh karena itu, NU sangat menghargai perkembangan kebudayaan dan menjadikannya bagian dari strategi dakwah Islam “rahmatan lil ‘alamin,” Di atas dasar moderasi (tawassuth), toleransi (tasammuh), dan komitmen menjaga equlibrium (tawazzun), corak keIslaman NU dibangun dengan tidak meninggalkan ketegasannya pada garis kebenaran (i’tidal). Tradisi2 lokal yang tumbuh di masyarakat diafirmasi dan secara bijaksana dimuati dengan substansi Islam. Sejarah Islam Nusantara telah mencatat keberhasilan pendekatan ini dengan damai menjadikan Indonesia sebagai kawasan berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Acara ini merupakan sebentuk apresiasi NU terhadap pegiat kesenian atau kebudayaan yang telah memberikan warna tersendiri dalam corak sejarah kontemporer Islam di Indonesia, khususnya di Surabaya. Penghargaan saptawikrama sesungguhnya merupakan penanda perhatian kaum nahdliyin terhadap perkembangan kesenian dan kebudayaan, karena entitas ini terbukti efektif sebagai medium perwujudan visi NU.Terkait penghargaan kepada tokoh seni, Ia juga menilai KH. Ridwan Abdullah adalah seorang santri perupa yang melukiskan lambang NU. Beliau menanamkan makna-makna yang dalam tentang visi keagamaan dan kebangsaan NU dalam lukisannya itu. Sedangkan Kiai Muntawi, dikenal dengan seniman jula-juli suroboyoan yang berhasil mengkodifikasi karya susastra otentik berkarakter lokal dan bermuatan konten dakwah Islam ramah.“ Ibu Hj. Ida Laila adalah penyanyi perempuan legendaris. Suara indahnya terbukti mampu menyemaikan moralitas dan spiritualitas di hati sanubari masyarakat. Sedangkan Cak H. Kartolo berhasil merevitalisasi ludruk gaya suroboyoan yang sarat dengan pesan-pesan moral untuk membangun peradaban yang mulia, “ungkapnya

Ia menambahkan kepada beliau-beliau yang saya sebutkan, warga NU surabaya menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasinya dalam bidang kesenian dan kebudayaan. Semoga menjadi jariyah yang akan bermanfaat untuk beliau-beliau, dunia sampai akhirat.“Kami berharap generasi muda saat ini, memiliki atensi untuk melestarikan apa yang sudah mereka perjuangkan. Kreatifitas dan inovasi, tentu saja juga sangat dibutuhkan untuk menjaga kesenian dan kebudayaan Surabaya agar dapat terus eksis dan memiliki relevansi untuk zamannya, Kepada teman-temanLesbumi NU Surabaya (cak H. Hasyim, dkk), saya menyampaikan terima kasih, telah mengikhtiyarkan kegiatan budaya yang signifikan untuk mengkomunikasikan NU kepada khalayak Surabaya dan Indonesia. Jazakumullahu Kahsira, “ungkapnya.

Ketua Lesbumi NU Kota Surabaya M Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa kegiatan tersebut untuk mewujudkan kepedulian terhadap kesenian asli Surabaya. Karena beberapa Kesenian dan Kebudayaan tersebut sebagian masih eksis dan hanya segelintir orang dan komunitas yang merawat dan melestarikannya.Menurutnya kehadiran Lesbumi selain dalam rangka berdakwah melalui kesenian dan kebudayaan, Lesbumi hadir untuk merawat dan melestarikan tradisi kesenian dan kebudayaan Nusantara khususnya di Surabaya. (Ais)

Komentar

News Feed