oleh

Revolusi Mental Kartini Masa Kini

APRIL, mengingatkan kita pada sosok pahlawan perempuan Indonesia. Ya, siapa lagi kalau bukan Raden Adjeng Kartini.

Kelahirannya tanggal 21 April yang diperingati sebagai tonggak kemajuan perempuan Indonesia dirayakan oleh berbagai kalangan. Anak TK dengan lomba fashion show dan memakai berbagai baju adat daerah, berbagai seminar tentang perempuan, tayangan-tayangan di televisi yang memperlihatkan kemajuan perempuan masa kini, dan masih banyak lagi.

Tidak ada salahnya saat ini ketika memperingati Hari Kartini kita mencoba menilik kembali sejarah perjuangan Kartini untuk kita ambil hikmah dan manfaat agar bisa terus meneladani apa-apa yang sudah beliau lakukan dan perjuangkan.

Pada tahun 1900-an perempuan-perempuan saat itu umumnya harus menjalani suatu adat, yaitu memasuki masa pingitan setelah memasuki masa remaja muda sampai waktunya untuk menikah. Kartini pun mengalaminya. Hal ini menghanguskan impian serta keinginannya untuk meneruskan pendidikan yang lebih tinggi. Di masa pingitan itu, beliau banyak memanfaatkan waktunya untuk mulai menulis surat untuk teman-teman korespondensinya, gemar membaca buku, koran serta majalah terbitan Eropa.

Kartini pun beberapa kali mengirimkan tulisannya dan akhirnya dimuat di De Hollandsche Lelie, sebuah majalah terbitan Belanda yang selalu ia baca. Terbitnya surat-surat Kartini mampu menarik perhatian masyarakat Belanda.

w750_h400px__1461258282

Pemikiran-pemikirannya mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi Indonesia sehingga menimbulkan simpati dari masyarakat Belanda yang kemudian menentang kebijakan-kebijakan parlemen Belanda yang merugikat kaum perempuan pribumi, yang akhirnya mampu menggugah hati pemerintah Belanda dan mau membangun pendidikan untuk masyarakat pribumi, khususnya kaum perempuan.

Mental Kartini

Dari sekelumit sejarah perjuangan Kartini tersebut, ada banyak sikap mental yang bisa diteladani oleh perempuan Indonesia hari ini. Sikap mental pertama adalah sikap pantang menyerah dan kreatif.

IMG-20160421-WA0006-1

Perempuan Indonesia hendaknya seperti Kartini ketika menghadapi kondisi tidak sesuai dari yang diinginkan ditambah dengan keterbatasan yang ada, tidak lantas membuat hanya berpangku tangan dan menyerah kepada keadaan, tetapi harus mampu membuat segala tantangan yang dihadapinya menjadi peluang. Mengembangkan berbagai ide dengan memanfaatkan teknologi, barang, sampah atau sumber daya alam yang ada di sekitarnya menjadi peluang usaha dan mampu memberdayakan perempuan-perempuan di sekitarnya untuk meningkatkan perekonomiannya adalah salah satu sikap perempuan Indonesia yang kreatif.

Sikap mental kedua yang bisa diteladani dari Kartini adalah gemar membaca. Perempuan Indonesia hendaknya juga banyak membaca, menambah referensi informasi serta mencari pengalaman dalam berbagai kesempatan. Dengan membaca, tentu akan menambah ilmu, wawasan, dan informasi yang mampu meningkatkan kemampuannya dalam mendukung segala peran yang diembannya, baik peran domestik sebagai istri dan ibu dalam rumah tangganya maupun peran sosial atau pekerjaan yang dilakoninya.

Bermanfaat untuk orang di sekitarnya adalah sikap mental ketiga yang harus dimiliki oleh perempuan Indonesia. Seperti Kartini yang berkontribusi memajukan perempuan Indonesia masa itu melalui pendidikan dengan mendirikan sekolah bagi gadis-gadis di Jepara, perempuan Indonesia hari ini juga bisa memberikan kontribusinya dalam berbagai aspek, tidak hanya dalam aspek pendidikan ansich.

Dengan segala potensi yang dimiliki kita bisa mengembangkan potensi kita agar seperti Kartini yang bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Banyak peran yang dapat diambil dan dimainkan untuk memberi kemanfaatan dalam masyarakat, misalnya seorang ibu rumah tangga yang mengelola rumah tangganya serta mengurus suami dan anak-anaknya dengan baik. Yang harus menjadi pola pikir adalah dalam peran dan posisi apa pun, perempuan Indonesia saat ini bisa menghadirkan kebaikan dan kebermanfaatan untuk bangsa dan negara.

Cerdas adalah sikap mental keempat yang harus dimiliki perempuan Indonesia hari ini. Kartini dengan kecerdasan dan kemampuan menulisnya mampu mengubah pandangan masyarakat Belanda dan kebijakan pemerintahannya untuk memberikan pendidikan kepada perempuan Indonesia saat itu. Perempuan Indonesia hari ini hendaknya juga mampu berpikir cerdas dalam berbagai aspek kehidupan. Cerdas dalam memilih setiap informasi yang banyak beredar di sekitar kita, cerdas dalam bermasyarakat dan cerdas dalam melakoni setiap peran dalam kehidupan.

Berpikir maju adalah sikap mental kelima yang juga harus dimiliki oleh perempuan Indonesia hari ini. Berpikir maju bukan berarti mengikuti tren kekinian atau budaya Barat. Berpikir maju di sini yaitu berpikir jauh ke depan. Seperti apa yang dilakukan Kartini di tahun 1990-an di balik dinding ruang pingitan, beliau berpikir luas dan maju. Pemikiran Kartini jauh melampaui orang-orang di zamannya.

Wanita Inspirator

Kartini adalah seorang inspirator. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya menjadi inspirasi bagi orang lain, antara lain tokoh kebangkitan nasional Indonesia, yaitu WR Soepratman, yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.

Menjadi inspirator hendaknya bisa dimiliki oleh perempuan Indonesia hari ini. Menginspirasi kebaikan bagi orang lain untuk berkarya dan berkreasi dalam membangun bangsa dan negara ini.

Sikap mental keenam, terakhir yang harus dimiliki perempuan Indonesia hari ini adalah memahami dan menyadari kodratnya sebagai seorang perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang sudah Tuhan berikan. Mari kita tilik sebuah penggalan surat Kartini kepada Prof Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902, beliau menyampaikan: “Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”

Kartini menyadari dan ingin menyadarkan kaum perempuan saat itu akan kewajiban menuntut ilmu dan pendidikan untuk mempersiapkan generasi peradaban. Bahwa perempuan adalah seorang ibu yang mempunyai peran penting dan strategis bagi sebuah peradaban bangsa. Ibu adalah sekolah bagi anak-anaknya. Pepatah mengatakan wanita adalah tiang negara.

Di tangannyalah baik buruknya sebuah bangsa. Dengan memahami dan menyadari kodratnya, seorang perempuan akan bisa melaksanakan kewajibannya dengan baik sehingga terciptalah generasi-generasi terbaik yang akan memajukan bangsanya. (Tr Sakti  Ketua Bidang Perempuan PKS Lampung).

Komentar

News Feed