oleh

Tragis! Masih Ada Desa Di Kecamatan Langgudu yang Tidak Memiliki Sinyal

BERITA KAB.BIMA (NTB) —- Jumlah pengguna internet berdasarkan wilayah di Desa Doro’oo kecamatan Langgudu adalah lebih kurang 2000 H.dengan jumlah warga 2000 jiwa.dan memiliki potensi ekonomi bidang pendidikan, kesehatan, kelautan, pertanian termasuk pariwisata.

“Memang, semua kami di sini ini, di kampung ini punya hape semua. Ya setiap orang itu ada hape, setiap kepala keluarga ada hape semua. Tapi di sini tidak ada sinyal. Jadi, kalau mau nelepon hapenya dibawa, kalau ndak nelepon hapenya disimpan. Kalau mereka yang punya hape agak mahal sedikit, yang punya kamera, lha itu mereka hanya mendengarkan radio saja atau lagu/musik.” Samudra putra SE, salah seorang warga Desa Doro’oo membuka suara,pada Awak media. Ia hanya mengenakan kaos berkelir Bali dengan celana selutut.

Samudra putra bercerita bahwa ia pernah mengirim sms ke isterinya yang sedang di kota. Tidak bisa dari rumah. Ia harus pergi ke puncak bukit yang ada di sebelah desa meski harus berhenti dua kali untuk menarik nafas. Ia tertawa. Di puncak baru ia mendapatkan sinyal. Itu pun tidak pasti. “Untung-untungan,” ujar samudra putra. Ada yang sampai menunggu berjam-jam. Samudra putra dan warga desa hanya tahu bahwa untuk mendapatkan sinyal harus naik ke puncak bukit saat pagi dan sore hari. Kalau siang hari tidak ada sinyal. Bahkan, beberapa warga terpaksa harus memanjat pohon demi mendapatkan sinyal yang bagus. Itulah mengapa pada akhirnya warga memberikan nama Doro (gunung)oo (Bambu) akhirnya di gunung baru ada Sinyal.


Sampai kemudian Samudra putra menceritakan sebuah kisah sedih yang berkenaan dengan sinyal.  Anak salah seorang warga meninggal dunia. Yang membuatnya sedih adalah ia baru menerima kabar pada pukul 1 malam, padahal anaknya meninggal pada pukul 5 sore. Jadi, istrinya memberi kabar ke salah satu kerabatnya, barulah ada keluarga yang naik motor memberitahu dirinya.

“Masalah jaringan ini penting. Kita butuh orang pusat yang memahami permasalahan di desa dan sekolah. Padahal, sekolah katanya sudah harus menggunakan sistem online,” ujar Bunyamin S pd (Kepala SDN INPRES Doro’oo). “Untuk komunikasi antarkecamatan begitu susah, kecuali harus turun ke kota,” lanjut Seorang calon kades (Kepala Desa Doro’oo) “Dulu – Sampai saat ini, tower di sana pun belum ada,” lanjutnya.

MEREKA BERHARAP “Kalau desa yang ada di pelosok sudah berupaya ingin maju, masa dari pihak pemerintah tidak punya keinginan?” tanya Samudra putra SE (Ketua LSM Laskar perisai Nusantara NTB “Memang tidak efisien pada zaman modern ini laporan harus manual atau dalam bentuk fisik. Kalau memang ada kebijakan menggunakan IT, saya yakin justru akan memudahkan kita,” ujarnya

“Mungkin bukan kami lagi yang mengerjakan, tapi akan ada generasi berikutnya seperti kami untuk mengelola supaya tampil lebih maju dan lebih bermanfaat bagi warga,” jelas. “Yang paling terbesar adalah bagaimana pemerintah–baik itu kecamatan, kabupaten, provinsi, atau tingkat nasional–itu juga menjadi pen-support bagi desa-desa yang hari ini jelas berhadapan dengan segala ketidakdayaan mereka untuk keluar dari keterbatasan tadi,” lanjut Harapan Samudra putra. (Rahim)

Komentar

News Feed