oleh

Peringati Asyura, Ribuan Pecinta Ahlubait Nabi Muhammad SAW Tumpah Ruah di Majlis Tahlil dan Sholawat Guru Besar Ustad Wahyu Yunus M,D Garut

Baraknews kab.garut–Ribuan Pecinta Ahlubait Nabi Muhammad SAW memenuhi lokasi perayaan Asyura atau peringatan10 Muharam sebagai tragedi terbunuhnya Imam Husain Cucu Baginda Nabi Muhammad SAW oleh Yazid bin Muawiyah di Karbala.

Majlis Tahlil dan Sholawat pimpinan Guru Besar Ustad Wahyu Yunus M,D di kampung Ciparay Suci Karangpawitan, Kabupaten Garut, Senin malam 8 Agustus 2022 (10 Muharam 1444 H) dipenuhi ribuan jemaah pecinta Ahlubait Nabi Muhammad SAW yang ingin mengikuti perayaan Asyura.

Jemaah dan ustad, mulai dari yang diundang khusus dari kota/kabupaten lainnya se-Jawa Barat hingga yang tak diundang, seperti tak henti-hentinya berdatangan ke Majlis Tahlil dan Sholawat pimpinan Guru Besar Ustad Wahyu Yunus M,D.

Hingga warga sekitar Majlis Tahlil dan Sholawat pimpinan Guru Besar Ustad Wahyu Yunus M,D merelakan rumah-rumahnya dikosongkan untuk menyambut jemaah yang sudah tak tertampung lagi di dalam Majlis.

Maka tampaklah pemandangan yang membuat merinding. Sekitar lima ribuan jemaah memenuhi kawasan Majlis Tahlil dan Sholawat pimpinan Guru Besar Ustad Wahyu Yunus M,D tumpah ruah hingga ke rumah-rumah penduduk dan gang-gang kecil yang sudah dipasang karpet oleh panitia dibantu warga dengan satu tujuan yang sama yaitu memperingati hari Asyura.

Acara diawali kalimat Assalamu alika Ya Aba Abdillahil Husain yang dipimpin oleh ustad Isak. Kemudian diberikan gambaran mengenai perjalanan keberangkatan awal imam Husein dari tanah kelahiran kakeknya Nabi Muhammad SAW, Madinah, menuju Makkah. Lalu dari Makkah menuju Karbala sampai jihad kematian merenggutnya oleh pasukan Yazid.

Sebelum acara penyambutan Asyura dilantunkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dilanjutkan sholawat lalu doa Ziarah untuk Al Imam Husein yang di pimpin oleh ketua Majlis Tahlil dan Sholawat Ustad Wahyu Yunus M.D.

Sementara Ustad Taopik dalam ceramahnya, mengatakan bahwa imam husein dilahirkan pada tanggal 3 sya’ban tahun 4 hijriah. Beliau hidup dalam rumah kenabian setelah ditinggal oleh kakeknya Nabi Muhamad SAW Al Imam Husein yang berada dalam didikan ayah dan ibunya (Imam Ali dan Sayyidah Fatimah),” kata ustad Taopik.

Di masa Yazid menjadi Khalifah, lanjut Ustad, seluruh masyarakat diminta untuk berbai’at kepada Yazid termasuk Imam Husein yang berada di Madinah. Namun Imam Husein menolaknya dengan tegas.

”Imam Husein menolak untuk berbai’at kepada Yazid karena apabila aku membai’at Yazid maka sama saja aku meridhoi dan membenarkan kebhatilan Yazid. Dan kabar tersebut terdengar oleh Yazid sehingga ia marah dan menyuruh gubernur Madinah yang bernama Walid bin Uqbah untuk membunuh Al Husain,” ungkap Ustad Taopik

“Setelah menerima kabar dari Orang kufah, mereka mengirimkan surat kepada Al Husein. Sampai dalam sebuah riwayat ada 12 ribu surat yang telah diterima oleh Imam Husein. Diantara isi suratnya, Imam Husein diperintahkan untuk berhijrah dan datang ke kota Kufah karena Kufah banyak para pembelanya,” jelas Ustad Taopik.

“Singkat kata salah satu saudaranya mengatakan “Wahai saudaraku (Muhamad Ibnu Hanapiah) menurut kamu bagiimana (Imam Husain) mengenai kepergianku, dia menyatakan agar mengikuti apa yang disarankan oleh keluarganya. Akan tetapi Al Umam Husein ternyata mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan Madinah, dengan alasan tidak mau untuk mengotori tanah kelahiran kakeknya,” tandas Ustad Taopik.

Disampaikannya juga, Al Imam Husein selama di Mekkah, banyak menemui sahabat-sahabatnya
Dan akhirnya Al Imam Husein. Kemudian setelah bertawaf Al Imam Husein langsung bergegas meninggalkan Makkah menuju Kufah tetapi di tengah perjalanan ditahan oleh pasukan Al Hurrariyahi.

“Dan akhirnya, tanggal 2 Muharram Imam Husein sampai di Karbala, hanya saja kudanya tidak mau berjalan. Beliau turun untuk berganti kuda. Namun dari kuda yang pertama sampai kuda ke tujuh tetap kudanya tidak mau berjalan. Sehingga Imam Husein bertanya tempat (Zuhair Al Qoyyin) sahabat Imam Husein,” tutur Ustad Taopik

Kepada sahabatnya, sambung Ustad Taopik, Imam Husein bertanya nama tempat itu. Dan dijawab sahabat, ini adalah Syati il furat.

“Lalu nama lain tempat ini apa? tanya sang imam. Ini adalah ALGHADIRIYYAH jawab sahabat lagi.Lalu nama lainnya apa? NAINAWA, lalu nama lainnya apa? KARBALA, jawab Zuhair. Mendengar itu Imam Husein mengucapkan Inalillahi wa Inna Ilaihi Raji’un,” ungkap Ustad Taopik.

”Kemudian di malam ke 10 Imam Husen mengajak beberapa saudara dan sahabatnya yang masih ada untuk menemui pasukan Yajid. Lalu terjadilah, tepatnya di tanggal 10 Muharam, peperangan yang dahsyat mengakibatkan kematian anak keluarga dan Al Imam Husein,” pungkas Taopik.

Terpisah, Ustad Isak, dalam kesimpulannya mengajak semua jemaah untuk sama sama meningkatkan kecintaan dan keimanan terhadap keluarga nabi dan perbanyak sholawat agar mendapat syafaat dari nabi dan keluarganya.