oleh

Filosofi ‘Katak Dalam Telaga’ Sang Gubernur*

-Berita NTB-469 views

BERITA MATARAN (NTB) –— Sekitar seratus dua puluh putra-putri berprestasi NTB yang dilabeli kata “aktivis” memenuhi aula Hotel Giri Putri Mataram sabtu 9 Juli 2019

Pagi menjelang siang yang sedikit gerah. Dingin yang dihembuskan AC pada beberapa titik sudut aula tak mampu mengusir aroma keringat yang bercampur-campur. Hari itu adalah satu dari sekian moment berharga. Seratus dua puluh orang itu akan dipertemukan dengan team utusan dari Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM) dan Gubernur NTB, Dr. Zulkifliemansyah.

Seratus dua puluh orang anak muda aktivis tersebut adalah penerima beasiswa S2 Pemprov NTB Tujuan Malaysia. Sebab itu, sekitar lebih dari 10 orang team dari Negeri Jiran tersebut akan berada di NTB lebih kurang seminggu. Tujuannya menguji kemampuan Bahasa Inggris para aktivis penerima beasiswa dengan serangkaian tes Malaysian University English Test (MUET) serta menjejal lebih lanjut kerjasama bidang pendidikan dengan Pemprov NTB dan sejumlah kampus di Pulau Lombok.

Yang menarik dari pertemuan itu bukanlah kehadiran team penguji dan utusan Kementerian Pendidikan Malaysia itu ke tengah-tengah para penerima beasiswa. Bagi penulis, sosok Gubernur NTB-lah magnet dari pertemuan itu. Doktor Zul, begitu Sang Gubernur biasa dipanggil. Usianya masih muda, energik, penuh semangat, optimis, serta sangat memahami bahasa anak muda. Yang lebih penting lagi, Sang Gubernur adalah alumni luar negeri, UK tepatnya.

Dan hari itu, beliau akan bicara di hadapan seratus dua puluh anak muda propinsi yang dipimpinnya yang akan ia kirim belajar ke luar negeri. Moment dan tema yang sangat pas!

“Saya tak lama…” begitu lebih kurang beliau membuka sambutan setelah sebelumnya menyapa utusan KPM, team LPP, dan semua yang hadir di ruangan itu.

“Saya ingin mengentengahkan satu kisah untuk anda semua. Kisah sederhana yang semoga bisa menjadi inspirasi bagi anda semua..” Sang Doktor melanjutkan. Dan kisah itu yang hendak penulis kutip pada catatan pendek ini.

“Kisah ini tentang sekelompok katak yang hidup di sebuah telaga. Telaga itu tidak mengalir. Airnya tertampung. Nampak semua katak-katak begitu menikmati dunianya. Berenang ke sana ke mari, melompat sana-sini. 

Namun ada satu ekor katak yang begitu gelisah. Ia nampak tak tenang dan berusaha memanjati dinding telaga itu. Berkali-kali. Terjatuh, lalu bangkit lagi. Teman-temannya menertawakan katak itu. 

“Ngapain memanjat?  Di luar sana tak ada apa-apa” begitu teman-temannya meledeknya. 

Namun ia terus berusaha. Ia meyakini bahwa di luar sana pasti ada kolam yang lebih luas, indah dan jernih. Keyakinan yang ia pegang hingga ia mampu menaklukan dinding telaga. 

Dan benar saja. Ketika matanya sampai di ujung dinding telaga, ia jumpai di luar sana ada kolam yang lebih luas, lebih indah, dan lebih jernih…”

“Kisah ini menjadi inspirasi bagi kita. Bukannya di Indonesia gak ada kampus bagus. Banyak. Ada UI. Ada UGM, dan lainnya. Kita mengirim anda semua sekolah ke luar negeri agar anda tak menjadi katak dalam telaga. Jelajahilah dunia luar. Belajarlah yang banyak, sebab anda semua adalah pemimpin-pemimpin masa depan. Bukan saja masa depan NTB, tapi juga masa depan Indonesia..”

Tepuk tangan bergemuruh. Beberapa pasang mata terpana. Semangat para aktivis bagai dibakar kembali.

Begitulah beliau, Sang Doktor. Dalam waktu yang lebih kurang lima belas menit sambutan itu, seisi ruangan dibuat terpana. Beliau bicara tidak sekedar dengan kata, namun kata yang berenergi. Energi yang beliau alirkan dengan sangat baik dan berkelas.

Selamat kepada seratus dua puluh anak muda NTB. Keluarlah dari telaga NTB. Temui dan jelajahi kolam-kolam yang lebih besar, lalu pada saatnya kembalilah ke tanah NTB yang setia menanti kontribusimu! (Rahim)

Komentar

News Feed