PANGANDARAN — Alun-alun Pangbagea yang terletak di Desa Cintakarya, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, kini tampak sepi dan kehilangan fungsi utamanya sebagai ruang publik dan pusat aktivitas ekonomi warga. Kawasan yang semula diproyeksikan menjadi sentra UMKM dan ruang interaksi masyarakat itu saat ini terkesan terbengkalai.
Alun-alun yang berada tepat di depan Kantor Bupati Pangandaran tersebut diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat saat itu, Ridwan Kamil, pada Minggu, 20 Februari 2022. Pada awal peresmian, Pangbagea digadang-gadang menjadi ikon keramaian baru sekaligus motor penggerak ekonomi lokal.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan kondisi yang berbanding terbalik. Nama Pangbagea, yang berarti tempat berkumpulnya orang-orang bahagia, kini tinggal simbol. Kunjungan masyarakat terus menurun, dan denyut aktivitas sosial maupun ekonomi nyaris tak terlihat.
Pantauan di lokasi menunjukkan bangunan fisik alun-alun masih berdiri megah, tetapi seluruh area UMKM di bagian bawah alun-alun tutup total. Lapak dagang kosong, gerobak tidak beroperasi, dan sejumlah fasilitas tampak kurang terawat.
Sebagai informasi, pembangunan Alun-alun Pangbagea dibiayai dari Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Barat Tahun 2021 dengan total anggaran sekitar Rp18 miliar. Fasilitas yang dibangun meliputi lapangan upacara, lintasan jogging, taman bermain, ruang kreatif, perpustakaan, ruang terbuka hijau, hingga area food court.
Saat ini, hanya segelintir warga yang terlihat beraktivitas di area taman, sementara food court dan lapak UMKM sepenuhnya tidak beroperasi.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Kabupaten Pangandaran, Tedi Garnida, membenarkan bahwa aktivitas perdagangan di kawasan alun-alun tersebut telah lama berhenti.
> “Karena sepi pengunjung, akhirnya tidak ada lagi pedagang yang bertahan di sana,” ujar Tedi, Selasa (27/01/2026).
Ia menambahkan, gerobak UMKM yang sebelumnya disediakan di kawasan alun-alun telah diserahkan kepada pemerintah desa agar dapat dimanfaatkan di lokasi lain yang lebih potensial.
> “Sekitar satu tahun lalu sudah kami serahkan ke Kuwu Desa Cintakarya supaya bisa digunakan di lokasi lain yang lebih ramai,” jelasnya.
Gerobak UMKM tersebut merupakan bantuan dari salah satu bank daerah atas inisiatif Dinas Koperasi, dengan nilai pengadaan di bawah Rp70 juta. Menurut Tedi, pemanfaatan gerobak masih sangat memungkinkan selama ditempatkan di kawasan dengan tingkat keramaian dan potensi ekonomi yang lebih tinggi.
( Upi )







