KUD Minasari Bagikan Tabungan Cengcelengan, Nelayan Pangandaran Terima hingga Jutaan Rupiah

Pangandaran – Ratusan nelayan di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, menerima pembagian tabungan khusus yang dikenal sebagai “Cengcelengan” dari Koperasi Unit Desa (KUD) Minasari menjelang Hari Raya Idulfitri.

Ketua KUD Minasari, Jeje Wiradinata, mengatakan total dana yang dibagikan kepada anggota koperasi tahun ini mencapai sekitar Rp1 miliar. Tabungan tersebut merupakan hasil akumulasi potongan kecil dari setiap transaksi penjualan ikan nelayan melalui koperasi sepanjang tahun.

“Di bank disebut tabungan biasa, tetapi di KUD ini tabungan yang melekat pada setiap transaksi penjualan ikan. Jadi setiap nelayan menjual hasil tangkapan, ada sebagian yang otomatis ditabung,” kata Jeje, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, sistem tersebut memudahkan nelayan menabung tanpa terasa memberatkan. Dana yang terkumpul kemudian dibagikan menjelang Lebaran, saat kebutuhan rumah tangga meningkat.

Besaran dana yang diterima nelayan bervariasi, bergantung pada aktivitas transaksi mereka selama setahun.

“Ada yang menerima Rp2 juta, Rp3 juta, bahkan lebih. Ini sangat membantu anggota, apalagi sebelumnya pada awal Ramadan mereka juga sudah menerima pembagian serupa,” ujarnya.

Bagi para nelayan, tabungan tersebut menjadi penopang ekonomi, terutama ketika hasil tangkapan menurun atau saat memasuki musim paceklik.

Salah seorang anggota KUD Minasari, Sunarsih, mengaku bersyukur atas pembagian tabungan tersebut karena pendapatan nelayan dalam setahun terakhir menurun.

“Alhamdulillah sangat bermanfaat. Tahun ini pendapatan ikan lagi sedikit, istilah orang Sunda paila atau paceklik. Jadi tabungan ini sangat membantu,” katanya.

Selain menerima dana tunai, para nelayan juga mendapatkan bingkisan Lebaran berisi kebutuhan pokok seperti biskuit, sirup, kopi, susu, dan gula.

Jeje menambahkan, KUD Minasari tidak hanya berfungsi sebagai tempat menabung bagi nelayan, tetapi juga berperan menjaga stabilitas ekonomi anggota di tengah fluktuasi harga komoditas laut.

Ia mencontohkan harga ikan layur yang biasanya sekitar Rp4.000 per kilogram, sempat melonjak hingga hampir Rp14.000 per kilogram menjelang Lebaran akibat terbatasnya pasokan.

“Koperasi hadir untuk membantu menjaga stabilitas ekonomi anggota,” ujarnya.

Selain itu, koperasi juga menyalurkan sejumlah program jaminan sosial bagi anggota, seperti santunan kematian hingga Rp10 juta serta bantuan beasiswa pendidikan bagi anak nelayan sebesar Rp5 juta.

Menurut Jeje, sistem koperasi berbasis kebersamaan tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi koperasi nelayan di berbagai daerah.

“Koperasi harus menjadi benteng pertahanan ekonomi bagi masyarakat kecil, khususnya nelayan yang memiliki risiko kerja tinggi,” katanya.

(Upi) 2/5 (1)

Nilai Kualitas Konten